TRILOGI PUTRI SCHOOLAHOLIC

-------------------------------------------------------------------------------------------
3 novel berisi tips & trik bersekolah di Indonesia & Singapura. Perjalanan kehidupan Putri Schoolaholic yang dikelilingi para pangeran di antara Jakarta, Singapura & Seoul...

Blog ini adalah tempat Yunisa berbagi ide-ide di balik penulisan Schoolaholic Princess termasuk belajar lebih banyak tentang Korea (termasuk jalan-jalan ke Korea)
------------------------------------------------------------------------------------------

Search This Blog - Cari di Blog ini


The Miracle Boys, Romansa Singapura, Simfoni Cinta

Wednesday, July 7, 2010

Definisi Pintar

Kami (maksudnya Yunisa dan para peserta diskusi yang merasa diri rakyat jelata, bukan golongan elite anak Indonesia di Sg, tapi kok terjebak dalam lingkungan penuh orang pintar di NUS), menyimpulkan: "pinter" di sekolah itu ada dua macam - pintar karena dari sononya pintar, dan pintar karena rajin belajar. Bagi yang merasa dirinya pintar (atau selalu disebut orang: kamu pinter deh, silakan tanya pada diri sendiri, kamu termasuk yang mana).

Ada cerita lucu/tragis (tergantung dari pihak mana kita melihatnya). Ini SST (sungguh2 terjadi). Dua murid yang bersaing ketat, dari kelas yang berbeda. Keduanya sama-sama ranking satu.
Si A dari awal sudah disuruh guru, dilatih mati-matian tiap hari buat ikut Olimpiade eksakta
Si B, karena udah ikut macam2 (baik lomba akademis pelajaran lain ataupun kegiatan aneh2 di luar sekolah), dia sama sekali tidak ditarik oleh guru tsb untuk Olimpiade ini.

Inilah yang terjadi pada H-1
Guru: B, besok kamu jam 8 siap yah, kita berangkat Olimpiade ini.
B: Tapi, Pak, kan seharusnya si A yang ikut?
Guru: Oh, A juga ikut.
A: *dalam hati merasa aneh, kok si B tiba-tiba juga disuruh ikut*

Hari pengumuman hasil seleksi tingkat kotamadya untuk Olimpiade tersebut
B lolos, A yang sudah dilatih mati-matian, tidak lolos.

Menurutmu, siapa yang sebenarnya pintar?

Menurut kami, keduanya pintar, tapi jenisnya berbeda. B bisa jadi adalah anak malas (yang kubilang: malas yang strategis).
Contoh: Bahan tes termasuk ikatan kimia untuk MSG (itu setengah halaman sendiri kalau di buku paket berukuran besar).
B dengan sengaja melompati bagian itu. B sudah pasrah, kalau itu keluar ujian, yah anggap saja nilai hilang. Toh, dia memang tidak niat (dan tidak merasa menghafal ikatan kimia MSG itu berguna di jangka panjang). Sementara A dengan tekun, hafal mati ikatan MSG. Jadilah nilai A paling tinggi sesekolah.

In real competition scenario, the following is what happened (based on my own personal experience joining macem2 dari TOFI, IChO, IMO yang cuma lolos tingkat provinsi, tapi KO di tingkat nasional - beda dong sama Jemmy, misalnya, yang mewakili TOFI Indonesia :P)
Soal yang disodorkan tidak pernah ada di buku teks sehari-hari, it's a totally brand new problem - seringnya untuk anak tingkat kuliah (atau master), padahal peserta kan masih SMP/SMA.

B dengan nggerundel (of course!) menggarap soal tersebut sambil mikir: astaga-naga, kok ini soal matematika jawabannya masih pakai variabel, dan tidak ketemu jawaban angka. (Memang kompetisi Olimpiade jenis ginian jawabannya kebanyakan masih dalam bentuk persamaan!!! tapi B berpendapat mana ketehe, anak SMP-SMA biasa masih  mencari jawaban angka). Sementara itu, A juga berusaha mengerjakan sebaik-baiknya.

Hasil akhir: B secara konstan, dalam SEMUA lomba akademis yang "tanpa persiapan, langsung disuruh maju bertempur", lolos tahap demi tahap. Sampai *ahem* dia disuruh milih: konsentrasi mau mewakili (Indonesia) di bidang apa.

Let's say A dan B menjadi ahli komputer. Suatu hari si A dan si B dimintai tolong oleh kawan mereka yang mendeskripsikan masalah yang dihadapinya secara detail: komputer hang.
A: Waduh, aku nggak bisa nebak pasti. Bisa jadi X, Y, Z yang bermasalah. Mesti bawa ke sini komputernya.
B: Error message-nya apa? Ini XXXX? Kalau iya, kamu buka AAA, terus BBB, terus ketik CCC. 
Dan dapat kita tebak, si teman sangat berbahagia karena si B LANGSUNG mengenali, mendiagnosis, dan walau jarak-jauh, bisa menyelesaikan secara tepat masalah ini komputer.

Let's say A dan B menjadi dokter, menghadapi pasien W dengan kasus superaneh
Dokter A setelah memeriksa dengan teliti: Kita perlu tes A-Z.
Dokter B, sekali lihat itu kasus, langsung mengorder: Kita perlu tes A, B, dan C.
Pasien W: Loh Dokter B, kok kita tidak perlu tes D-Z?
Dokter B: Oh nggak perlu, karena tes A itu buat apa, tes B itu buat apa, tes C itu buat apa. Kalau A gini, B gini, C gitu, berarti kasusnya ini. Bla bla.

See the difference? I am so blessed that I am surrounded by many Bs. Banyak banget orang-orang cerdas yang emang dari sononya cerdas - dalam kehidupan saya.
PS: Nana dan Phil di Schoolaholic Princess termasuk kategori dokter B.

2 comments:

Trace of Linda Cheang said...

enggak ada maksud nyombong, tapi aku termasuk tipe B. terutama, sifat anti njelimet dan sifat pemalasnya. hahahaha.....

Yunisa said...

hehehe, Linda, yang jelas sampai detik ini, wo de jui hao de beng you pada tipe B deh :D - aku asli suka org yg tokcer, think out of the box, langsung kepikir solusi kalo disodori masalah.