TRILOGI PUTRI SCHOOLAHOLIC
-------------------------------------------------------------------------------------------
3 novel berisi tips & trik bersekolah di Indonesia & Singapura. Perjalanan kehidupan Putri Schoolaholic yang dikelilingi para pangeran di antara Jakarta, Singapura & Seoul...
Blog ini adalah tempat Yunisa berbagi ide-ide di balik penulisan Schoolaholic Princess termasuk belajar lebih banyak tentang Korea (termasuk jalan-jalan ke Korea)
------------------------------------------------------------------------------------------
3 novel berisi tips & trik bersekolah di Indonesia & Singapura. Perjalanan kehidupan Putri Schoolaholic yang dikelilingi para pangeran di antara Jakarta, Singapura & Seoul...
Blog ini adalah tempat Yunisa berbagi ide-ide di balik penulisan Schoolaholic Princess termasuk belajar lebih banyak tentang Korea (termasuk jalan-jalan ke Korea)
------------------------------------------------------------------------------------------
Search This Blog - Cari di Blog ini
The Miracle Boys, Romansa Singapura, Simfoni Cinta
Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts
Sunday, July 17, 2011
Twitter dari Bella
bellaoctj Bella oc Tjen
Re-read my Schoolaholic Princess series :) I never get bored with this^^~~♥
Ahem, udah lama banget nggak nge-blog. Well, masih utang upload foto acara Feb 2011 di SMP Stella Duce 1 Yogyakarta (my almamater) - entah kapan diriku mood sortir foto WAKAKAKKA. Fotonya sih ada di Macbook yang tiap hari dirodi buat kerja n main game (part of kerja - serius lho).
Terus terang, tahun ini too much happenings - di kantor, keluarga besar, dan itu sangat... sangat memengaruhi mood nulis. Apalagi Papa lagi down banget...
Bella ini adalah salah satu pembaca yang berusaha lift my spirit up - thank you, Bella! *big hug*
Meanwhile, Yunisa masih hidup, cuma tidak seceria biasanya, not as lively as my usual self, malesnya tambah pol, tapi tetap berusaha at least tetap menghasilkan dolar. Yes, I can confirm that I will write another Schoolaholic - gak janji kapan selesai...
Labels:
sharing
Thursday, November 25, 2010
Edisi Guru Part 2: Bu Dewi Kunti
KoKi, Hardiknas 2 Mei 2007
Cerita dari Seorang Schoolaholic: Guruku Walau Junior tapi Hebat
Cerita dari Seorang Schoolaholic: Guruku Walau Junior tapi Hebat
Yunisa - Singapura
Zevie, ini sambungan cerita pengalaman indah bersekolah di Indonesia.
Hoki dapet guru bagus itu tidak bisa dinilai dari senioritas pengalaman guru semata. Saya punya guru yang KEREN ABIS padahal dia baru TAHUN PERTAMA MENGAJAR alias fresh grad, lulusan IKIP (kalau tidak salah). Namanya Bu Dewi Kunti, guru SMP mata pelajaran Ekonomi Koperasi (Ekop), bagian dari IPS. Banyak sih murid yang memandang dia sebelah mata karena masih baru. Tapi saya SPTB, tertarik pada tepungnya (meminjam istilah Pak Pram). Nah, suatu hari, saya salah konsep pengertian badan usaha -- gara-gara kata "sebagian" -- saya artikan sebagai 50% (dasar otak maunya link to maths always). Dengan sabar, Bu Dewi datang ke meja saya, terus nerangin kalau kata "sebagian" itu "tidak ditentukan mesti berapa %"...
Terus suatu hari saya lagi BT abis sama guru-guru pelajaran lain (e.g. Tata Buku / Admin yang pukul rata nilainya: kamu betul semua atau salah sedikit, nilai max cuma 8, mana saya mesti ikut lomba ke luar sekolah). Pas saya kumpulin PS Ekop saya ke Bu Dewi (telat gara-gara away pas ada jam Ekop, jadi saya baru bikin begitu balik dari lomba), dia malah menolak buat mengoreksi. Sampai sekarang saya masih bingung, kok itu ibu guru bisa pas banget ngomongnya ke saya, "Yunisa, saya tidak perlu koreksi punya kamu. Ibu percaya kamu bisa mengerjakan dengan sempurna." *gubrak, gak diliat kerjaan, langsung dikasih 10* Wah rasanya hatiku berbunga-bunga, dan hilang sudah rasa suntukku hari itu.
Yang saya salut dari Bu Dewi Kunthi ini selain personal approach beliau, juga kemampuan meraba soal ujian! She was my Econ teacher kelas 3 SMP as well. Dari kelas 2 diajar Bu Dewi, semua soal ulangan harian dia, PASTI KELUAR di ulangan umum provinsi!!! Terus pas Ebtanas, SOAL HARIAN juga keluar!!! Jadi rasanya pas ngerjain final exam: loh kok gampang bin sipil banget gitu lho, kan udah keluar di ulangan harian! Kemampuan ini juga dipunyai oleh guru senior saya di SMA (Bu Dien, guru PPKn -- yang pensiun 2 tahun setelah saya lulus) sama Pak Hardy (guru Kimia SMA, he is passionate in teaching chemistry, harusnya udah pensiun masih ngajar tuh sampe sekarang). Yang bikin saya angkat topi ke Bu Dewi itu DIA KAN GURU BARU, belum senior pas ngajar saya... Terus pas saya lulus SMP, dia kasih tau kalau saya pegang rekor NEM IPS tertinggi se-Jogja (haha, pasti bagian Ekop yang nyumbang 100% bener).
Kalau saya main ke almamater saya (for sure, next year if I go back, pasti main deh, lah adik bungsuku tahun ini bakal mulai sekolah di sana juga) -- tiap saya ketemu Bu Dewi, dia masih inget nama saya!!! *terharu hiks, udah lulus berapa tahun juga masih diinget* Apa yang diajarkan ibu guru muda ini, benar-benar melandasi pemahaman saya akan ilmunya Adam Smith sampai sekarang -- termasuk pas kuliah ambil biz modules. Matur nuwun, Bu Dewi!
Udah dulu ya Zev, mau rest nih. Masih banyak guru-guru lain, tapi nanti KoKiers bosen bacanya hehe =D *maksudnya beli novelku aja kalau nanti terbit hahaha*
Salam Schoolaholic,
Labels:
sharing
Edisi Guru Part 1: Pak Pram
Pak Pram (Stefanus Hadi Pramana) = paling kiri, the most left.
Photo credit: Eko Nugroho Putranto, uploaded in SMP Stella Duce 1 facebook group (salah upload)
Yes, today is teacher's day in Indonesia.
Rina Suryakusuma asked me why I have not written any entry in my blogs recently. First, my life is kinda boring, nothing much to tell except if you would like to hear my work stuff. Anyway, I just want to share a bit about a few teachers who I wrote in Schoolaholic Princess (especially Book 1).
-----KoKi 30 Apr 2007: Schoolaholic SD -- A Tribute to Pak Pram
Zevie, kalau ini dimuat SPTB (seperti biasa, istilahnya adikku yg bungsu), mungkin saya lagi plesir-plesir di Korea. Saya gatel banget pingin nanggapi artikelnya Suhu Josh Chen soal pendidikan di Indonesia. Menurut saya, apakah anak nantinya jadi "OK" atau tidak, faktor-faktor berikut sangat penting:
1. Peranan ortu dalam memilih sekolah
2. Kemampuan & minat si anak sendiri
3. Hoki dapet guru bagus / tidak. (Bagian ini saya mau cerita soal Pak Pram, guru SD saya).
1. Ortu saya OK banget...
Intro dulu: Sekolah Pilihan Ortu
Pengalaman saya sekolah dari playgroup-SMA di Indo sangat berkesan -- dan sudah saya tuangkan dalam novel kedua (Schoolaholic Princess). Memang sekolah yang saya masuki itu semua pilihan ortu: swasta, agama -- saya tidak pernah masuk SMP / SMA negeri unggulan walau NEM saya lebih dari cukup. Ortu takut saya dicing or kena diskriminasi, soalnya by default saya orangnya berani mati, tukang ngeyel sama guru, apalagi kalau saya yakin saya bener. Terus karena saya cantik (turunan mama), dari SD udah dibajul cowok-cowok, dengan masuk sekolah tipe susteran (apalagi pas SMA cewek semua), ortu sedikit merasa lebih aman. Pas saya pingin go international, kuliah di luar (kemauan sendiri, cari univ sendiri), ortu cuma bisa "ya kalo kamu mau, cari jalan sendiri!" --> ortu lega, berarti bebas kemungkinan dicing dosen.
No les pelajaran, les macem-macem YES!
Saya tidak menutup mata kalau banyak teman-teman yang "les pelajaran tambahan" sama wali kelas. Saya sendiri TIDAK PERNAH NGELES PELAJARAN dari SD-SMA. Ortu justru suruh saya ngeles di luar pelajaran sekolah. Ortu ngeliat tingkah laku anak-anaknya, terus ditanyain: mau les English gak? (waktu itu English belum diajarkan di SD). Mau les organ gak? Mau les nari gak? Mau les renang gak? Anaknya juga kepinginan (lagi musim film silat) -- Ma, mbok aku ngeles Mandarin ya. (Tapi ya gitu deh, otak saya gak bisa ngapal tulisan aneh-aneh). Ortu cuma pingin anaknya nggak bosen acara sekolahan terus. Jadi di luar jam sekolah ya kalau mau beraktivitas, pilih yang di luar pelajaran sekolah aja. Ternyata ini bagus untuk perkembangan otak!
Foundation kesadaran belajar sendiri: IBU dan GURU
I have to thank my mom for her patience in giving me the foundation of strong maths and Indonesian spelling. Dulu saya kelas 1 bego banget, taunya 11 itu ya sebelas, setelah 10, gak tau satuan itu apa puluhan itu apa. Jadi dapet nol deh PS math -- wah langsung diceblek tangan saya 10x sama Mama. Pas IPA dapet 6 gara-gara salah spelling dingin jadi "dinggin" --> 4 nomer sendiri! Jadi bukan salah konsep IPA, tapi masalah pengejaan. Sejak saat itu, kalau Mama nemu saya salah eja, dipastikan saya harus menyalin kata yang salah eja 10x. Hasilnya tok cer. Kalau nulis tangan (bukan ngetik loh ya, ngetik kan typo karena salah pencet) -- saya hemat tip ex alias jarang salah, sampe teman-teman pas SMA heran. Tip ex satu bisa tahan 3 tahun hahaha =D
Waktu SD itu, saya ditanamkan konsep: pelajaran gampang gini, dapet 10 dong! Jangan mudah puas sama nilai 8/9. Tapi sayangnya, Mama gak telaten gitu ke semua adik-adik (maklum kebanyakan anak). Jadi sekarang giliran saya yang "membantai" adik bungsu.
2. Pak Pram, a teacher who moulded my personality
Sekarang Yunisa dikenal sbg cewek super PD itu karena Pak Pram -- nama lengkap: St. H. Pramana (wali kelas 6), ulang tahunnya hari Natal (hasil saya ngecek kantor Tata Usaha sebelum kelulusan haha, telat yah) -- dia adalah guru SD paling keren. Dia membuat saya merasa "it is OK" just to be myself, gak usah takut kalau saya emang mengepakkan sayap lebih tinggi daripada teman-teman. Guru-guru lain OK juga sih, mereka membuat saya merasa normal, gak beda sama teman-teman lain... Mereka belum mengajarkan self acceptance in real term. Baru general identification with peers doang. Lain halnya dengan Pak Pram (mungkin karena dia juga udah senior waktu ngajar saya). Tapi kelihatan sekali kalau he has the passion to teach.
Unforgettable, he will always be in my heart. Pak Pram was the one who made me a Schoolaholic in real term. He made me love every single lesson, thrist to know more... He made me realize that it's OK to believe in myself. He made my world every single day -- jadi kalau sakit rasanya rugi banget -- Yunisa harus diusir: jangan masuk, nanti temenmu ketularan! Baru deh gak masuk.
Cara dia nerangin itu fun abiz. Misal IPS, ibukota Tibet.
Pak Pram: "Kemarin hari apa?"
Murid: "Selasa."
Pak Pram: "Nah, ibukota Tibet itu Lasha."
Pelajaran EYD + grammar bahasa Indo dari Pak Pram, waduh, itu senjata yang bikin saya menang melawan guru-guru bahasa Indonesia di SMP-SMA (salut buat Pak Pram). Sampai sekarang saya masih bisa kalau disuruh nulis surat resmi kantoran berbahasa Indonesia resmi, tapi di KoKi -- biarlah lotek n gado-gado aja bahasanya hehehe =P
Pak Pram juga emphasized: "Anak-anak, saya cuma menerangkan bahan ini sekali! Gak bakal balik lagi ke bahan ini soalnya kalian kelas 6, harus persiapan ujian, semua bahan dari kalian kelas 1 harus dikuasai! Jadi kalau kalian nggak ngerti bab ini, ya harus tanya hari ini!" Aturan main itu saya pegang selama saya sekolah. Bahan yang diterangkan hari itu, harus dimengerti hari itu (tidak berhasil pas kuliah S1 jurusan matematika -- yang bikin saya mutung, banting setir jurusan S2nya).
Filosofi lain yang diajarkan: "Materi pelajaran itu seperti tepung. Kalau kalian menguasai tepungnya, disuruh bikin roti macem-macem juga bisa! Soal-soal itu kan cuma perintah suruh bikin roti jenis apa!" Ini saya pegang sampai saya lulus SMA. Jadi kalau mau dikasih soal muter-muter kayak apa, asal saya menguasai materinya, saya punya keyakinan, pasti bisa dikerjakan.
Pak Pram itu guru sekaligus mbah dukun??? Karena saya ketua kelas, saya sering banget stay back, beresin kelas, diajak ngobrol istirahat, kalo ada tawaran lomba selalu dikasih tau pertama... Suatu hari pas belajar topik ASEAN, dia bilang kalau saya nanti di Singapura. Waktu itu saya cuma melongo aja. (Pak Pram punya kemampuan metafisik, dia juga bisa ngobati mata timbilen / bintitan dengan air putih yang dia doakan dulu).
Terus kalau nerangin matematika, Pak Pram terang-terangan main "cepat tepat" -- yang tau jawaban tunjuk jari. Dan walau saya angkat tangan pertama, dia gak pernah suruh saya jawab, selalu dikasih temen lain dulu sebelum akhirnya ke saya. Dan pernah, jawaban saya itu beda sendiri sekelas (melawan 40 anak). Dialog berikut membangkitkan rasa super PD saya (di P4 dulu namanya asas kepercayaan terhadap diri sendiri).
Pak Pram: Yun, kamu yakin jawabanmu benar?
Saya: Ya!
Pak Pram: Gak takut tuh nanti kalau dimusuh teman-teman sekelas soalnya jawabanmu beda sendiri?
Saya: Ngapain takut, Pak?
Pak Pram: Bagus! Kalau kamu benar, harus berani mempertahankan jawabanmu, walau itu melawan sekelas! Memang jawaban yang benar jawabannya Yunisa.
Dan sering, kalau teman-teman lain semua udah stuck, couldn't solve the problem given by Pak Pram, baru Pak Pram minta saya explain ke kelas solusi saya. His approached in using me to explain my logic to the class really trained me in public speaking, scientific presentation. Pak Pram juga adalah guru pertama yang mengindikasikan kalau ketepatan pilihan kosakata saya "di atas rata-rata" teman-teman sebaya -- saya menganggap normal deh kalau nilai mengarang saya bagus (belum ada niat sama sekali jadi novelis waktu itu).
Segi fun Pak Pram: kalau sekelas bosen, takut ulangan pelajaran lain, tau-tau kita semua disuruh berdiri n nyanyi. Kadang suruh tepuk Pramuka. Rame deh!
(bersambung)
Labels:
sharing
Wednesday, September 22, 2010
Beda Menjiplak dengan Mengutip
Perhaps I took for granted that I am surrounded by well-groomed academics. Ternyata dari pembaca yang gak suka sama Yunisa (tapi tetep aja baca tulisan saya LOL) -- ada yang nggak tau beda menjiplak sama mengutip.
OK deh, buat yang tidak pernah berkecimpung dalam dunia riset atau bergelut dengan jurnal ilmiah, I'll tell you the difference. Mengutip itu selalu mencantumkan sumber referensi. Coba lihat aja di semua resep yang Yunisa salin di blogs - selalu ada Sumber / Source, apa resep itu dari Detik atau Femina atau majalah Nova yang dilink oleh Kompas atau Asiaone...
Dalam menulis research paper, ada teknik yang namanya Oxford style referencing. Biasanya kutipan (nama orang, tahun). Misal:
BTW, silakan diGoogle sendiri detailnya untuk Oxford style ini, di References urutannya gimana: surname, italics, etc. Oxford style banyak digunakan di universitas2 di Inggris dan negara2 pesemakmuran.
-----
Orang yang tidak memedulikan Tuhan, hidupnya tak akan pernah bahagia (Samuel Mulia, 2010)--> ini salah satu untuk bab pembuka di trilogi Peony (belum selesai buku 2 dan buku 3-nya). Om Samuel, I always love reading your articles. Full of wisdom!
BTW, silakan diGoogle sendiri detailnya untuk Oxford style ini, di References urutannya gimana: surname, italics, etc. Oxford style banyak digunakan di universitas2 di Inggris dan negara2 pesemakmuran.
-----
Pak Ari - terima kasih dulu sudah melatih murid-murid Stece 1 dalam menulis laporan praktikum Biologi yang sangat "ketat aturan", panjang, dan harus
-dicicil setiap hari selama seminggu (cara Yunisa)
-ngebut tulis tangan sampai pegal semalam suntuk dan diteruskan menyambi di hari H pengumpulan laporan = cara teman2 ;)
-dicicil setiap hari selama seminggu (cara Yunisa)
-ngebut tulis tangan sampai pegal semalam suntuk dan diteruskan menyambi di hari H pengumpulan laporan = cara teman2 ;)
Laporan Biologi yang wajib memakai daftar pustaka, mengutip teori yang akan dibuktikan, hipotesis, dsb. - juga saya praktikkan untuk laporan Fisika dan Kimia. Alhasil, terima kasih, Pak. Seperti yang Bapak bilang, penderitaan zaman SMA itu sangat berguna di kemudian hari kalau kami, murid-murid Pak Ari, dipaksa nulis laporan ilmiah pada saat kuliah (dan pasca kuliah). Fellow Stece-ers, berbahagialah kita yang dulu "disiksa" Pak Ari hehehe :D Cheers!
Labels:
sharing
Tuesday, September 21, 2010
Penjiplakan adalah bentuk pemujaan yang paling bego
Halo pembaca,
Pagi ini Yunisa bangun tidur membuka Macbook (disuruh ngecek AirAsia sama Mama) dan tanpa sengaja malah menemukan bahwa isi dari blog ini (bagian Korea khususnya) disalin tanpa izin dan tanpa kredit...
Apakah mentalitas orang Indonesia memang nggak ketulung? Kapan bisa majunya negara kita?
Yanti (or whoever you are), kalau mau menyalin itu ya mbok ngomong baik-baik dulu... Saya nggak langsung secara buta menyalin dari sumber - I do some editing first before I post... Dan pengalaman memasak di KTO itu MEMANG HARUS DATANG ke Samsung Hub di Raffles Place!
Kalau Anda mau usaha Anda dihargai, Anda harus belajar terlebih dulu menghargai usaha orang lain.
Jadi teringat Kimberly yang baik (pendukung gerakan Stop Plagiarisme) - you rock, Kimberly. You got my respect.
Korean Steamboat vs. (asli) Korean Steamboat
Cooking Japchae vs. (asli) Cooking Japchae @ KTO
Bento Korea vs. (asli) Bento Korea
Dari Yunisa yang mengelus dada
Labels:
sharing
Monday, August 30, 2010
Merlion Dress
Forgot to post this. Miss Singapore Universe 2008 bajunya ala Merlion. Totally funny. One of the LOL moments in Sg when I read local news.
Source: Straits Times
Labels:
sharing
Friday, August 27, 2010
My sis - Merlion, Singapore (peace, love, hope)
OK, my lil sis (Martha Rinna Dewi) is there (Singapore, Merlion, I was the cameraman 2 years ago). Syutingnya panas, diulang-ulang karena dia gak ngeh udah diaba2 1-2-3 mulai... dan masih banyak kekonyolan lain ala anak2 (sekarang udah gak selucu itu deh hhehehe) PEACE!
Labels:
sharing
Wednesday, July 7, 2010
Definisi Pintar
Kami (maksudnya Yunisa dan para peserta diskusi yang merasa diri rakyat jelata, bukan golongan elite anak Indonesia di Sg, tapi kok terjebak dalam lingkungan penuh orang pintar di NUS), menyimpulkan: "pinter" di sekolah itu ada dua macam - pintar karena dari sononya pintar, dan pintar karena rajin belajar. Bagi yang merasa dirinya pintar (atau selalu disebut orang: kamu pinter deh, silakan tanya pada diri sendiri, kamu termasuk yang mana).
Ada cerita lucu/tragis (tergantung dari pihak mana kita melihatnya). Ini SST (sungguh2 terjadi). Dua murid yang bersaing ketat, dari kelas yang berbeda. Keduanya sama-sama ranking satu.
Si A dari awal sudah disuruh guru, dilatih mati-matian tiap hari buat ikut Olimpiade eksakta
Si B, karena udah ikut macam2 (baik lomba akademis pelajaran lain ataupun kegiatan aneh2 di luar sekolah), dia sama sekali tidak ditarik oleh guru tsb untuk Olimpiade ini.
Guru: B, besok kamu jam 8 siap yah, kita berangkat Olimpiade ini.
B: Tapi, Pak, kan seharusnya si A yang ikut?
Guru: Oh, A juga ikut.
A: *dalam hati merasa aneh, kok si B tiba-tiba juga disuruh ikut*
Hari pengumuman hasil seleksi tingkat kotamadya untuk Olimpiade tersebut
B lolos, A yang sudah dilatih mati-matian, tidak lolos.
Menurutmu, siapa yang sebenarnya pintar?
Menurut kami, keduanya pintar, tapi jenisnya berbeda. B bisa jadi adalah anak malas (yang kubilang: malas yang strategis).
Contoh: Bahan tes termasuk ikatan kimia untuk MSG (itu setengah halaman sendiri kalau di buku paket berukuran besar).
B dengan sengaja melompati bagian itu. B sudah pasrah, kalau itu keluar ujian, yah anggap saja nilai hilang. Toh, dia memang tidak niat (dan tidak merasa menghafal ikatan kimia MSG itu berguna di jangka panjang). Sementara A dengan tekun, hafal mati ikatan MSG. Jadilah nilai A paling tinggi sesekolah.
In real competition scenario, the following is what happened (based on my own personal experience joining macem2 dari TOFI, IChO, IMO yang cuma lolos tingkat provinsi, tapi KO di tingkat nasional - beda dong sama Jemmy, misalnya, yang mewakili TOFI Indonesia :P)
Soal yang disodorkan tidak pernah ada di buku teks sehari-hari, it's a totally brand new problem - seringnya untuk anak tingkat kuliah (atau master), padahal peserta kan masih SMP/SMA.
B dengan nggerundel (of course!) menggarap soal tersebut sambil mikir: astaga-naga, kok ini soal matematika jawabannya masih pakai variabel, dan tidak ketemu jawaban angka. (Memang kompetisi Olimpiade jenis ginian jawabannya kebanyakan masih dalam bentuk persamaan!!! tapi B berpendapat mana ketehe, anak SMP-SMA biasa masih mencari jawaban angka). Sementara itu, A juga berusaha mengerjakan sebaik-baiknya.
Hasil akhir: B secara konstan, dalam SEMUA lomba akademis yang "tanpa persiapan, langsung disuruh maju bertempur", lolos tahap demi tahap. Sampai *ahem* dia disuruh milih: konsentrasi mau mewakili (Indonesia) di bidang apa.
Let's say A dan B menjadi ahli komputer. Suatu hari si A dan si B dimintai tolong oleh kawan mereka yang mendeskripsikan masalah yang dihadapinya secara detail: komputer hang.
A: Waduh, aku nggak bisa nebak pasti. Bisa jadi X, Y, Z yang bermasalah. Mesti bawa ke sini komputernya.
B: Error message-nya apa? Ini XXXX? Kalau iya, kamu buka AAA, terus BBB, terus ketik CCC.
Dan dapat kita tebak, si teman sangat berbahagia karena si B LANGSUNG mengenali, mendiagnosis, dan walau jarak-jauh, bisa menyelesaikan secara tepat masalah ini komputer.
Let's say A dan B menjadi dokter, menghadapi pasien W dengan kasus superaneh
Dokter A setelah memeriksa dengan teliti: Kita perlu tes A-Z.
Dokter B, sekali lihat itu kasus, langsung mengorder: Kita perlu tes A, B, dan C.
Pasien W: Loh Dokter B, kok kita tidak perlu tes D-Z?
Dokter B: Oh nggak perlu, karena tes A itu buat apa, tes B itu buat apa, tes C itu buat apa. Kalau A gini, B gini, C gitu, berarti kasusnya ini. Bla bla.
See the difference? I am so blessed that I am surrounded by many Bs. Banyak banget orang-orang cerdas yang emang dari sononya cerdas - dalam kehidupan saya.
PS: Nana dan Phil di Schoolaholic Princess termasuk kategori dokter B.
Labels:
sharing
Subscribe to:
Posts (Atom)

